Ali dan Fatimah

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Hari itu, tahun kedua setelah hijrah, Madinah tengah bahagia. Para pembesar mendatangi rumah Baginda. Telah sampai berita, Fathimah putri tercinta kini siap berumahtangga. Hanya saja, setiap orang yang datang pada Sang Nabi, kembali dengan wajah berseri, tapi tanya yang tersimpan di hati. Baginda menjawab santun sekali: _amruhâ ‘inda rabbihâ_. Perkara Fathimah ada di (tangan) Tuhannya. Perihal suami putri Sang Nabi rupanya ditentukan di langit tinggi.

Alkisah, Ali sibuk bekerja di sebuah kebun kurma. Ia sedang mengairi pohon-pohon kurma dengan untanya. Beberapa sahabat Anshar melihatnya dan berkata, “Hai Ali,
semua sahabat meminang Fathimah, mengapa engkau tak turut serta?” Ali tak kuasa. Rasa hormat, cinta, malu, penjagaan diri, semua bergabung jadi satu. Ia tahu ia takkan mampu menghadap Baginda. Ia tahu ia takkan bisa mengutarakan maksudnya. Para sahabat itu berniat menjembatani, tapi kata Ali, “Biar aku saja. Di mana Rasulullah Saw kini berada?” “Di rumah Ummu Salamah,” terdengar jawabnya.

Maka kaki perkasa itu melangkah tak berdaya. Menyisakan jejak yang bahagia disisakannya. Melangkahlah, meski berat ia mengarah. Ayunkan kaki itu, dua langkah lagi. Di sana Sang Nabi tengah menanti. Kaki yang tegar, yang telah membelah padang pasir yang membakar, kini tertegun bergetar. Melangkahlah, dua langkah lagi.

Di depan rumah Ummu Salamah, Ali kembali termangu. Tak sanggup ia mengangkat tangan mengetuk pintu. Tangan yang kuat menggenggam Dzulfiqar kini luluh seakan gentar.
Menurut Ummu Salamah, mengisahkan peristiwa hari itu, dari sisi yang berseberangan dengan Ali, dari dalam rumah bersama Nabi, “Aku tengah bersama Nabi ketika Nabi bersabda: “Bukakan pintu itu. Akan datang seseorang yang ridha pada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah, Rasul-Nya ridha kepadanya.” Padahal, belum kudengar suara ketuk di pintu.
Ummu Salamah bergegas ke pintu, dan masih tak ia dengar ketukan itu. Barulah ketika mendekat, terdengar pelan sekali suara merambat. Ucapan salam dan mohon izin disampaikan begitu berat.

Pintu pun dibuka, dan di sana tampak Ali menengadah terpaksa, “Sampaikan salamku pada Rasulullah. Mohon kiranya, beliau berkenan menerima kehadiranku.”
Ummu Salamah menjawab, “Masuklah Ali, Nabi telah menunggumu dari tadi…”
Tapi kaki itu terasa berat, langkah itu sungguh terlambat. Bayangkan getar hati Ali… melangkahlah, dua langkah lagi. Perjumpaan dengan Sang Nabi akan menghilangkan setiap gelisah. Tapi kali ini…

Akhirnya, sampai juga Ali di hadapan Baginda, yang tersenyum menyambut mesra. Ali tak kuasa mengangkat kepala. Mata tertunduk menatap bumi di bawahnya. Ayolah ksatria, apa yang menahanmu menatap mata? Bukankah rindu wajah Sang Nabi menggelora di dalam dada? Mengapa telungkup itu? Mengapa tertunduk itu?

Sang Nabi memegang pundak Ali, mendudukkannya lembut dan berkata, “Hai Ali, gerangan ada apa denganmu? Seolah ada burung bertengger di atas kepalamu?”
Nabi yang pengasih tahu apa yang dirasakan setiap orang, apalagi yang sangat mencintai dan mengasihinya. Makin tinggi derajat kemuliaan, makin ia bergabung dengan seluruh kemanusiaan, makin ia dapat merasakan kebahagiaan dan penderitaan sesamanya.

Nabi tahu maksud Ali, tapi apa yang ada dalam hati belumlah terikrar hingga diutarakan dengan pasti.
Masih dalam kepala yang tertunduk, Ali kemudian berkata…
“Ya Rasulallah, telah kau ketahui ikatan kekerabatanku dengan keluarga Risalah. Terang bagimu perjalananku, keteguhanku, kesabaranku dalam berjuang bersamamu untuk agama dan jihad di jalanNya…” Mendengar Ali tak melanjutkan katanya, Nabi menjawabnya, “Engkau lebih (tinggi) dari semua itu, hai Ali.”
Kemudian Ali melanjutkan kata yang telah tersimpan lama di batinnya, “…lalu, apakah menurutmu Ya Rasulallah… aku layak untuk meminang Fathimah?”

Dan lepaslah sudah tanya itu… masih dalam kepala yang ke bumi terpaku, masih dalam duduk yang membenam membatu. Sejenak, tak ada suara… sunyi, bisu…

Nabi Saw tersenyum. Ia pasti bangga dengan keberanian Ali mengutarakan maksudnya.Ia pasti bahagia melihat kematangan pribadi dan kesempurnaan jiwanya. Di tengah semua keharuan, rasa malu, penghormatan, cinta dan pengabdian, Ali telah sampaikan apa yang bergetar di hatinya.
Di sini, Nabi Saw menjawab begitu bijaknya. Nabi juga mengajarkan kebebasan perempuan menentukan pilihannya. Nabi berkata, “Hai Ali, sebelummu telah datang banyak orang. Mereka juga sama datang meminang. Dan setiap kali aku tanyakan pada Fathimah tentang mereka, wajahnya seketika berbeda. Aku rasakan ia tidak suka. Sekarang, pintamu pun sama. Akan aku tanyakan kepadanya.”

Maka Nabi pun shalallahu ‘alaihi wa alihi mendatangi Fathimah. Mata sang putri bersinar memandang sang ayah: guru, teladan, keluarga terdekat setelah ibunda berpulang ke rahmatullah. Bagi Fathimah, Rasulullah adalah segalanya. Seluruh rasa hormat dan taat, bahagia dan cinta bersatu dalam personanya. Nabi menjadi wasilah kasih dan kedekatan Tuhannya. Setiap ucap Sang Nabi bukan saja petuah, ia adalah titah Tuhan baginya.

“Wahai Ali, biarkan aku tanya Fathimah dulu,” kalimat Baginda Nabi itu menutup pembicaraan. Ali pamit pulang. Mungkin dalam hatinya bercampur beragam perasaan. Bahagia, hormat, gundah…ah, saya tak dapat membayangkannya. Guratan batin para teladan adalah sesuatu yang tak dapat direka. Meski mudah dibaca. Yaitu bahwa mereka akan selalu mendahulukan kebenaran. Mereka akan senantiasa menjunjung keadilan. Mereka akan bersabar dan meniti sebaik-baik jalan menuju Tuhan.

Dalam kehidupan orang-orang pilihan itu ada suri tauladan, teramat banyaknya, teramat indahnya.

Malam itu, entah apa yang dilakukan Ali. Mungkin ia di rumah seperti biasanya, menjahit pakaian berlubangnya, atau mengunjungi rumah-rumah orang-orang miskin sepertinya, atau tersungkur haru dalam munajat pada Tuhannya. Malam yang panjang. Esok hari ia akan beroleh jawaban. Ia telah habiskan banyak malam sebelumnya, tapi tidak yang seperti ini. Ia terjaga mengikuti Nabi Saw beribadah di Gua Hira. Ia lalui malam-malam penuh perjuangan di Lembah Abu Thalib, saat keluarga Nabi dikucilkan. Ia keluar malam-malam itu, mencari minuman untuk anak-anak kecil, mencari makanan untuk bertahan, menempuh berbagai rintangan. Ia tidak tertidur kala terbaring di peraduan Nabi, bersiap menjadi tumbal pengganti, pada malam hijrah teramat suci… tapi malam ini, ia bukan malam biasanya. Ini malam kerinduan. Inilah saat perkhidmatan, bersatu dalam penghormatan. Malam ini bukan hanya Ali, seluruh penghuni langit menanti. Ini malam istimewa. Ini malam jawaban cinta.
Mungkin bagi Ali, seluruh malam yang telah dilaluinya membawanya pada titik ini, pada detik ini, pada saat ini. Kecintaannya pada Sang Rasul adalah kecintaan tak terperi. Ia dilahirkan, tumbuh, dan besar dalam naungan Nabi. Maka apalagi cara berbakti, apalagi cara membalas budi, selain menyerahkan diri sepenuhnya pada teladan kekasih hati. Bayangkan kecamuk hati itu ketika Ali menggumamkan kedua bibirnya, dan lidahnya mengantarkannya berkata, “Dengan perkenanmu ya Rasulallah… izinkan aku meminang Fathimah…”

“Biarkan aku tanya Fathimah dulu…” Maka malam itu, Nabi yang agung mengunjungi putri yang dikasihinya. Putri tersayang yang selalu mengingatkannya pada ibunya. Fathimah yatim di usia belia. Dalam banyak hal, ia menggantikan ibunya. Adalah tangan Fathimah yang mengibaskan sampah dan debu saat Nabi shalat di depan Ka’bah, dan orang-orang kafir itu mengganggunya. Adalah Fathimah yang membalutkan luka saat ayahnya dilempari para penentangnya. Adalah Fathimah…wasiat terakhir Khadijah untuk dirinya.
Di hadapan hujrah Fathimah itu, semua kenangan akan Khadijah tampak indah di hadapan, terbentang dalam pelupuk yang tergenang… “Ah, engkau pasti menantikan saat ini. Engkau pasti mengharapkan malam ini. Engkau pasti mendambakan waktu ini. Dan kau tak ada bersamaku… kau tak hadir di sisiku.” Mungkin demikian Baginda berujar… dan ia tertegun di depan pintu itu. Ah, terlalu jauh aku membayangkan…

Nabi Saw pun memasuki hujrah itu. Fathimah berdiri menyambutnya. Ia melepaskan jubah Nabi dan menggantungnya. Lalu ia membungkuk dan melepaskan
kedua sandal ayahnya. Ia mengambil wadah air yang sudah disediakannya. Kemudian ia mencuci kaki itu…kaki yang telah melangkah ke bukit-bukit terjal, kaki yang membelah dingin sahara, kaki yang menopang tubuh teramat mulia. Fathimah mencuci kaki ayahanda tercintanya. Lalu ia berwudhu dengan keberkahan air itu. Kemudian ia duduk tenang di hadapan Paduka. Bayangkan rona bahagia dan linangan airmata di paras suci Baginda. Hening… hingga kemudian terdengar sabda…
“Ali putra Abu Thalib adalah ia yang keutamaan dan derajatnya dalam Islam telah jelas bagi kita. Dan aku memohon kepada Allah Ta’ala, agar engkau dinikahkan dengan sebaik-baik hamba pilihan-Nya. Kini, telah datang kepadaku Ali, memintamu menjadi istri. Bagaimana menurutmu, wahai putriku?”

Fathimah tenggelam dalam tenang teramat dalam. Tetapi binar mata dan seluruh paras sucinya menyampaikan pada Baginda semuanya: tak ada gurat kecewa, tak tersirat bahkan tanya. Ia membalas pandangan Nabi yang mulia dan tak sekejap pun memalingkan muka. Tak menundukkan pandang. Tak mengalihkan tatapan. Hening, selama waktu dan penantian para malaikat akan jawaban itu.
Baginda pun berseru, “Allâhu Akbar. Tuhan Mahabesar. Tenangmu adalah ketetapanmu, putriku. Diammu adalah setujumu.”

Keesokan harinya, Ali kembali datang menemui Sang Nabi. Tidurkah ia semalam? Atau perasaan berdebar menanti jawaban. Di sini beberapa kisah berbeda meriwayatkan. Ada yang menyebutkan Ali datang bersama beberapa kawan. Ada juga yang mengisahkan tanya Nabi Saw itu di hadapan para sahabat, dan Sayyidah Fathimah sa diam tak menjawab.

Kemudian Nabi bersabda, _“Sukûtuhâ iqrâruhâ.”_ Diamnya Faathimah, persetujuannya. Ada juga yang menceritakan bahwa Fathimah sempat bertanya pada Sang Ayah, ketika disampaikan padanya pinangan Ali putra Abu Thalib, “Bagaimana menurutmu ya Abah?” Kemudian Nabi Saw menjawab, _“Ni‘ma ba‘lin laki ‘Aliyyun.”_ Sebaik-baiknya suami bagimu, adalah ‘Ali. Lalu Sayyidah Fathimah mengiyakan.
Nabi sempat bertanya, dengan apa Ali hendak menikahi putrinya. Ali menyampaikan barang yang dimilikinya: sebilah pedang, baju besi, dan seekor unta yang membantunya bekerja sehingga Ali tak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dengan untanya, Ali mencari nafkahnya. Pedang Ali juga tak mungkin dilepaskannya. Islam tegak dengan pedang itu. Baru saja Badar berlalu, dan Ali satu di antara tiga ksatria yang tampil ke muka, bersama Hamzah pamannya dan ‘Ubaidah bin al-Harits, sepupu Ali. Pedang itu masih akan diayunkannya. Ali menyerahkan keputusan pada Nabi. Nabi meminta Ali menjual baju besinya dan menikahi Fathimah dengan hasil dari penjualan zirah itu.
Zirah itu terjual sebesar 400 dirham. Oh, siapa yang berbahagia memperoleh zirah itu. Andai aku pembelinya wahai Imam. Andai aku dan seluruh keluarga dan sahabatku mengumpulkan harta kami, dan membeli kepingan dari zirah itu. Mas kawin kesucian, mas kawin keabadian. Mas kawin keselamatan. Mas kawin cinta.

Hasil dari penjualan Zirah digunakan sebagai berikut. Pertama, Nabi Saw meminta Bilal untuk mencarikan dan membeli minyak wangi untuk putrinya Fathimah. Ya Rasulallah, permata hatimu adalah bidadari dalam rupa manusia. Ialah wewangian dari taman surga, yang bila kau merindunya, kau memeluknya erat dan berkata, “Bila aku merindukan surga, aku mencium Fathimah.” Ya Rasulallah, wewangiannya adalah harum surgawi, dan untuk saat yang indah ini, engkau minta Bilal mencarikan untuknya minyak wangi. Fathimah yang indah bagaimana lagi diperindah? Fathimah yang suci bagaimana lagi disucikan?

Untuk sebuah hari yang besar itu, Nabi Saw meminta putrinya bersiap. Nabi Saw memberikan yang terbaik untuk putri yang dikasihinya. Minyak wangi itu wahai Bilal… berikan kami sekelebat harumnya. Biarkan kami hirup wewangian itu, walau sesaat saja.

Kedua, kali ini Nabi Saw memanggil ‘Ammar. ‘Ammar putra Yasir yang menyaksikan kedua orangtuanya syahid di hadapannya. Nabi Saw meminta ‘Ammar untuk membeli barang-barang keperluan rumah tangga. Persiapan bagi pasangan baru itu memasuki kehidupan baru. ‘Ammar bergegas ke pasar. Hari itu hari besar. Baginda sedang berbahagia. Tapi geliat pasar seperti biasanya. Tak ada kemeriahan, tak ada hingar bingar. Sukacita batiniah menerangi penghuni langit. Mereka yang berpesta. Mereka yang larut dalam doa. Semarak pertautan agung ini, telah begitu lama mereka nanti.
‘Ammar menelusuri lorong-lorong pasar Madinah dan kembali dengan membawa beberapa perangkat: sehelai kain seharga tujuh dirham, kerudung senilai satu dirham, tirai, dipan Arabi sederhana yang terbuat dari kayu, dua kasur: yang satu dari wol yang lainnya dari serat kurma. Empat bantal, juga dari wol dan serat kurma. Beberapa peralatan dapur, nampan, tempat menampung air dan sebagainya. Melihat ‘Ammar datang dengan barang-barang itu, Nabi Saw bersabda, “Ya Allah, berkatilah mereka yang alat keperluannya terbuat dari tanah liat sederhana.”

Kemudian sisa dari penjualan zirah itu menjadi mas kawin Ali dan Fathimah. Sejumlah 500 keping perak menjadi pengikat janji suci.

Nabi Saw berbahagia. Putri semata wayangnya hendak berkeluarga. Ia beroleh suami sebaik-baiknya mukmin yang paling dicintainya. Nabi Saw bersabda, “Ya Allah, inilah putriku, sebaik-baik makhluk yang aku cintai. Ya Allah inilah putra pamanku, sebaik-baik makhluk yang aku cintai.” Ada beberapa versi periwayatan. Ada yang menyebutkan pernikahan agung ini terjadi pada bulan suci Ramadhan, ada juga pada bulan Syawal. Yang masyhur adalah mereka berdua mengikat janji suci pada awal bulan Dzulhijjah, tidak lama setelah kaum Muslimin beroleh kemenangan di Badar. Mungkin, pernikahan pertama pasca peperangan itu.

Banyak hal menarik seputar pernikahan Sayyidah Faathimah salaamullahi ‘alaiha dengan pemuda Bani Hasyim bernama Ali ini. Ketika pertama kali disandingkan, keduanya tak saling menatap, tapi mata terpaku pada bumi, dipenuhi rasa malu dan hormat pada sesamanya. Atau ketika Nabi menitipkan Sayyidah Fathimah pada Ummu Salamah. Agar mendidiknya, membimbingnya, dan Ummu Salamah berkata, “Demi Allah, ia lebih tahu dariku. Ia sangat beradab terhadapku.” Lalu Ummu Salamah mencium wewangian yang belum pernah ia cium sebelumnya. Ketika ia bertanya pada Rasulullah Saw, beliau menjawab, “Itu anbar… wewangian yang dibawa malaikat Jibril ‘alaihis salam.” Pernikahan kedua insan ini memang istimewa. Mereka dinikahkan Rasulullah Saw di bumi, dan mereka pun dinikahkan Allah Ta’ala di langit dengan para malaikat menjadi saksi. Inilah teladan kebersamaan yang suci. Cinta sejati yang akan mengantarkan pada Ilahi.

Mengapa terjadi perbedaan periwayatan? Satu di antaranya karena Ali tidak segera membawa Fathimah ke rumahnya. Ada sebulan lamanya, Fathimah masih di rumah Nabi Saw. Hingga satu hari, Aqil saudara Ali datang menemuinya. Ia berkata, “Wahai saudaraku, tiada yang lebih membahagiakanku selain engkau menikah dengan putri Rasulillah Saw. Tapi mengapa belum juga kau bawa istrimu ke rumahmu?” Ali menjawab singkat, “Sungguh, karena rasa maluku dan hormatku pada Nabi.” Aqil berkata, “Aku tidak akan meninggalkan tempatku berdiri, hingga engkau berangkat bersamaku menemui Rasulullah Saw.”

Pagi itu, mentari menjumpai Ali yang masih juga telungkup haru menuju rumah Nabi. Langkahnya tampak pendek, sedang Aqil bergegas di hadapannya. Kepala itu, masih juga memandang bumi. Bagaimana kata hendak disampaikan? Bagaimana maksud hati diutarakan? Baginda sudah tahu segalanya. Tak ada yang tersembunyi. Tak ada yang tertutupi. Mengapa malu wahai Ali, padahal Fathimah telah resmi kauperistri?

Di pertengahan jalan, mereka berdua bertemu dengan Ummu Ayman, satu di antara kerabat yang berkhidmat pada keluarga Rasulullah Saw. Ummu Ayman melihat pemandangan yang janggal itu. Ada ketergesaan, tapi juga keengganan. Mereka pun bertegur sapa, berbincang, dan disampaikanlah maksud pembicaraan. Mendengar itu, Ummu Ayman berkata, “Ini perkara perempuan... pulanglah. Biarlah aku yang menyampaikannya.”

Siang itu, kabar pun sampai pada keluarga Rasulullah Saw. Senyum bahagia terpancar pada wajah suci Baginda. Persiapkan sebaik mungkin, sepertinya demikian semua terasa. Ummu Ayman dan Ummu Salamah menjadi ketua pelaksana. Sore hari, perempuan-perempuan Bani Hasyim dan keluarga Rasulullah Saw berkumpul. Mereka bersiap agar Fatimah bersiap.
Mentari pun bersembunyi, dan rembulan datang berganti. Malam itu, Sang Nabi mengetuk hujrah sang putri.

Sebelum masuk, Rasulullah Saw bersabda, “Perempuan selain Fathimah agar meninggalkan ruangan ini...” Maka mereka bergegas keluar menyisakan Nabi seorang diri. Tetapi, begitu Nabi melangkah, sekelebat bayangan hitam berdiri di dekat pintu. “Siapakah engkau?” tanya Rasulullah Saw.
“Asma binti Umais,”
“Bukankah aku sudah memintamu keluar?”
“Benar ya Rasulallah... maafkan aku. Bukan maksudku untuk tidak melakukan itu. Tetapi ini aku menunaikan janji pada Khadijah...”
Begitu nama Sayyidah Khadijah disebut, Nabi Saw tertegun. Wajah suci beliau berganti rona. Ada haru, ada rindu. “Khadijah...?”
“Benar ya Rasulallah...”

Sekiranya sejarah bisa senantiasa dikenang, satu kata itu akan membawa Rasulullah Saw pada istri yang dikasihinya, pada pendamping pertama dan utamanya. Ketika Sayyidah Khadijah terbaring sakit, dan malakal maut telah dekat menjemput, ia berkata pada Rasulullah Saw, “Ya Rasulallah... kiranya engkau berkenan mendengarkan wasiatku. Sungguh, begitu banyak kekuranganku untuk memenuhi hakmu. Maafkan aku ya Rasulallah...” mendengar itu, Nabi bersabda, “Sungguh, aku tidak pernah melihat sedikitpun darimu kekurangan. Kesungguhanmu menyertaiku, perbendaharaan milikmu yang dipergunakan di jalan Tuhan, dan kesulitan dan penderitaanmu bersamaku.” Lalu Sayyidah Khadijah berwasiat yang kedua, “Aku titipkan kepadamu putri kita...” tangannya mengarah pada Fatimah yang masih belia, “...sepeninggalku, putri kecilku akan menjadi anak yatim. Jangan sampai seorang pun mengganggu dan menyakitinya. Adapun wasiatku yang ketiga, aku malu menyampaikannya kepadamu.
Perkenankan aku menitipkannya pada Fatimah.”Maka Nabi Saw memberikan kesempatan pada istri terkasih dan putri tercinta untuk bersama-sama berbekal rindu.

“Putriku...” kata Sayyidah Khadijah, “Katakan pada ayahmu...Ibumu ini akan menghadapi kematian. Mohonkan pada ayahmu, agar jubah yang ia kenakan saat menerima wahyu, dengan perkenannya ia tutupkan menjadi kafan bagiku...”

Pada saat-saat terakhir itulah Asma binti Umais datang menjenguk Sayyidah Khadijah. Ini juga yang dikisahkannya kepada Nabi, mengapa ia masih berada di hujrah Fatimah. Ia melihat Khadijah menangis. Tetesan air mata mengalir dalam pembaringan ibunda kaum Mukminin. Asma pun bertanya,
“Mengapa engkau menangis wahai junjungan? Bukankah suamimu manusia terbaik kekasih Tuhan? Engkau termasuk di antara perempuan penghulu langit dan bumi yang dipilihkan. Engkau istri Sang Nabi yang dengan lisan sucinya telah menyampaikan kepadamu kabar tentang surga... mengapa tangis dan duka itu?”
“Aku tidak menangis karena itu. Sungguh aku menangis akan datangnya satu hari. Setiap perempuan pada malam pengantinnya, akan dibimbing oleh ibunya. Mempersiapkan baginya segala hal yang perlu diketahuinya. Fatimah kecilku, aku cemas tiada yang akan menemaninya... bila saat itu tiba.”
“Bila engkau izinkan, junjunganku, aku berjanji kepadamu. Inilah janjiku di hadapan Allah Ta’ala. Sekiranya Dia memanjangkan usiaku, aku yang akan melakukannya untukmu...”

Mendengar kisah Asma’, bulir-bulir airmata tergantung di pelupuk mata suci Baginda. Nabi menangis. “Demi Allah, karena itukah engkau berdiri di sini...?”
“Benar ya Rasulallah...”

Dan Nabi pun mendoakan bagi Asma kebaikan.Tangis Baginda teringat istri terkasih. Tangis Baginda akan cinta seorang ibu yang penuh kasih... bahkan di saat terakhir itu tiba.

Maka keesokan harinya, Fatimah diantarkan pada Ali. Kedua insan pilihan Tuhan dipertautkan dalam ikatan kebahagiaan, ketaatan, perkhidmatan. Sungguh, merekalah teladan keluarga, teladan pernikahan, teladan penghormatan antara suami dan istri, antara ayah dan putri, antara umat dan Sang Nabi. Bagi persatuan mereka, bahkan langit bersuka cita. Bagi cinta mereka, seluruh semesta berpesta.

Pada pagi harinya, Nabi datang m enemui mereka berdua. Melepas rindu dan bertanya kabar mereka. Cinta Nabi amat besar pada keduanya. Selama tiga hari setelahnya Nabi tak henti menyapa. Kepada Ali ia bertanya bagaimana putrinya, kepada Fathimah Nabi pun menyampaikan yang sama. Keduanya menjawab, “Sungguh, ia suami teramat baik.” “Sungguh, ia istri teramat taat...” sehingga Nabi Saw bersabda, “Sekiranya tidak ada Ali, padanan untuk Fathimah tak dapat dicari.”

dikutip dari buku *Perjalanan Pulang (tanpa) Kembali*
Miftah F. Rakhmat

#alwayssayshalawat
#UsMif@TPW

Komentar

Postingan Populer